Moving On, Not Out of Hate: Perjalananku dari GitHub ke Codeberg
October 28, 2026

Moving On, Not Out of Hate: Perjalananku dari GitHub ke Codeberg
Ada kalanya kita harus meninggalkan sesuatu yang sudah lama menjadi bagian dari perjalanan kita. Bukan karena kita membencinya, bukan pula karena kita sudah tidak membutuhkannya, melainkan karena keadaan membuat kita tidak lagi bisa bertahan di tempat yang sama.
Bagi sebagian orang, migrasi mungkin hanyalah perkara memindahkan data dari satu tempat ke tempat lain. Mengganti layanan, memindahkan repository, mengubah konfigurasi, lalu melanjutkan pekerjaan seperti biasa. Namun, bagiku, migrasi kali ini terasa sedikit berbeda. Ada rasa kecewa yang sulit dijelaskan, tetapi di saat yang sama, ada pula rasa terima kasih yang tidak bisa begitu saja dihilangkan.
Ini bukan sekadar tentang berpindah platform. Ini tentang meninggalkan sesuatu yang sudah lama menjadi bagian dari perjalanan kecilku di dunia pengembangan web.
Ketika Rumah yang Lama Tak Lagi Terasa Sama
Aku sudah cukup lama menggunakan GitHub. Selama itu pula, aku memanfaatkan berbagai fitur yang disediakan, termasuk GitHub Pages untuk menerbitkan website personal milikku. Dengan layanan gratis tersebut, aku bisa membangun, mengembangkan, dan memperkenalkan proyek-proyekku kepada siapa saja melalui internet.
GitHub menjadi tempatku menyimpan kode, mencatat setiap perubahan, dan perlahan-lahan membangun sesuatu yang bisa kusebut sebagai hasil karyaku sendiri.
Aku melakukan apa yang biasanya dilakukan seorang pengembang: menulis kode, memperbaiki kesalahan, melakukan commit, lalu mengulanginya lagi. Commit demi commit, perubahan demi perubahan, semuanya menjadi bagian dari proses panjang membangun personal webku.
Tidak ada sesuatu yang istimewa dari aktivitas itu. Aku hanya mengembangkan proyekku sendiri, menyimpan hasil pekerjaanku, dan mencoba membuat sesuatu yang bisa kubanggakan.
Sampai akhirnya, ada sesuatu yang terasa tidak beres.
Akun GitHub-ku masih bisa dibuka, tetapi akses terhadap publikasi proyekku tidak lagi berjalan seperti yang kuharapkan. Keadaan ini membuatku merasa seolah-olah akunku terkena semacam red flag. Aku belum mengetahui alasan pastinya, dan aku tidak ingin terburu-buru menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Yang kutahu, pengalaman ini membuatku kebingungan dan kecewa.
Aku merasa tidak melakukan sesuatu yang aneh. Aku hanya mengerjakan proyek web personalku, menyimpan kode, dan melakukan commit seperti biasa. Namun, tiba-tiba ada kendala yang mengganggu salah satu bagian penting dari alur kerjaku.
Tentu saja, aku sadar bahwa sebuah platform memiliki aturan, sistem moderasi, dan kebijakan yang mungkin tidak sepenuhnya kupahami. Bisa jadi ada sesuatu yang terdeteksi oleh sistem, ada batasan tertentu, atau ada alasan lain yang belum kuketahui. Aku tidak bisa memastikan penyebabnya tanpa penjelasan yang jelas.
Namun, ketidakpastian itulah yang membuat pengalaman ini terasa mengecewakan.
Domain Baru yang Belum Sempat Dinikmati
Hal yang membuat semuanya terasa semakin menyakitkan adalah waktunya.
Baru saja aku merayakan satu pencapaian kecil: menggunakan domain kustom untuk website personalku di GitHub Pages. Bagiku, itu bukan sekadar menghubungkan sebuah domain ke website. Ada kebanggaan tersendiri ketika proyek yang dibangun sedikit demi sedikit akhirnya memiliki alamat yang lebih personal dan terlihat lebih profesional.
Mungkin terdengar sederhana bagi orang lain, tetapi bagi seseorang yang mengerjakan proyeknya sendiri, pencapaian kecil seperti itu memiliki arti.
Aku membayangkan website tersebut akan terus berkembang. Aku bisa menambahkan proyek baru, memperbaiki tampilannya, dan menjadikannya tempat untuk menunjukkan apa saja yang telah kupelajari.
Namun, sebelum sempat menikmati semuanya lebih jauh, masalah itu muncul.
Rasanya seperti baru saja menyelesaikan satu bagian perjalanan, lalu tiba-tiba harus kembali mengambil jalan memutar. Ada pekerjaan tambahan yang sebenarnya tidak kurencanakan. Ada waktu yang harus digunakan untuk mengurus sesuatu yang seharusnya tidak perlu menjadi prioritas saat itu.
Aku kecewa, tentu saja.
Tetapi pada akhirnya, aku juga memahami bahwa tidak semua hal berjalan sesuai dengan rencana. Sesuatu yang selama ini terasa nyaman bisa saja berubah, dan kita tidak selalu memiliki kendali atas perubahan tersebut.
Yang bisa kita lakukan adalah memutuskan bagaimana kita akan melanjutkan perjalanan setelahnya.
Terima Kasih, GitHub
Meskipun ada rasa kecewa, aku tidak ingin menutup perjalanan ini dengan kebencian.
Bagaimanapun juga, GitHub telah menjadi bagian penting dari proses belajarku. Aku mendapatkan tempat untuk menyimpan repository, mengelola perubahan kode, dan memanfaatkan GitHub Pages untuk menerbitkan website tanpa harus langsung memikirkan biaya hosting.
Layanan tersebut membantuku memulai dengan apa yang kumiliki saat itu. Aku bisa belajar, bereksperimen, dan membangun personal tanpa perlu menyiapkan infrastruktur yang rumit.
Untuk itu, aku tetap berterima kasih.
Aku tidak bisa mengabaikan semua manfaat yang pernah kudapatkan hanya karena sekarang aku sedang mengalami masalah. Pengalaman baik yang pernah ada tetap menjadi bagian dari perjalanan ini, sama seperti kekecewaan yang kurasakan sekarang.
Mungkin inilah bagian yang paling sulit dari sebuah perpisahan: menerima bahwa kita bisa berterima kasih kepada sesuatu yang pada akhirnya tidak lagi bisa kita andalkan dengan cara yang sama.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti keadaan akan berubah atau apakah aku akan kembali menggunakan layanan tersebut untuk kebutuhan tertentu. Namun, untuk sekarang, aku perlu mencari jalan yang lebih sesuai dengan kebutuhanku.
Bukan untuk membuktikan bahwa GitHub buruk, bukan pula untuk menganggap platform lain pasti lebih baik. Aku hanya ingin memastikan bahwa proyek-proyekku tetap bisa berjalan dan aku memiliki kendali yang lebih besar terhadap apa yang kubangun.
Selamat Datang di Codeberg, dan Kembali ke Home Server
Akhirnya, aku memutuskan untuk melakukan migrasi.
Untuk penyimpanan repository, aku mulai beralih ke Codeberg.org. Sementara itu, untuk deployment website personalku, aku memilih menggunakan self-hosting melalui home server milikku sendiri.
Keputusan ini tentu bukan tanpa konsekuensi.
Memindahkan seluruh repository membutuhkan waktu. Aku harus melakukan pencadangan, memastikan kode-kode penting tetap utuh, memeriksa kembali setiap proyek, dan menyiapkan lingkungan baru agar semuanya bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Tidak semua hal bisa dipindahkan hanya dengan satu klik. Ada konfigurasi yang perlu disesuaikan, ada alur kerja yang perlu diubah, dan ada kemungkinan masalah baru yang harus kuhadapi.
Codeberg pun bukan berarti tanpa keterbatasan, dan home server bukan berarti tanpa risiko. Aku tetap harus memikirkan keamanan, konektivitas, ketersediaan layanan, pencadangan, serta pemeliharaan sistem. Jika server berada di rumah, aku juga harus siap menghadapi kemungkinan listrik padam, koneksi internet terganggu, atau perangkat mengalami masalah.
Namun, ada sesuatu yang menarik dari keputusan ini.
Untuk pertama kalinya, aku merasa perlu memahami lebih dalam bagaimana proyekku benar-benar berjalan di balik layar. Aku tidak lagi sekadar mengandalkan layanan yang sudah menyediakan semuanya, tetapi mulai belajar menyiapkan dan merawat sebagian infrastrukturku sendiri.
Aku harus memahami proses deployment dengan lebih baik. Aku perlu belajar mengelola server, mengatur layanan, menjaga keamanan, dan memastikan website tetap bisa diakses.
Tentu saja, semuanya tidak akan langsung mudah. Aku mungkin akan melakukan kesalahan, menghabiskan waktu untuk mencari penyebab masalah, atau menemukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan.
Tetapi bukankah memang seperti itu cara kita belajar?
Kadang-kadang, kita baru menyadari betapa banyak hal yang belum kita pahami ketika keadaan memaksa kita keluar dari kebiasaan.
Mungkin Sudah Waktunya Belajar Mandiri
Selama ini, layanan gratis telah memberikan banyak kemudahan. Kita bisa membangun proyek, menyimpan kode, dan menerbitkan website tanpa harus mengelola seluruh infrastruktur sendiri. Kemudahan tersebut sangat berarti, terutama bagi orang-orang yang sedang belajar dan belum memiliki banyak sumber daya.
Namun, kemudahan juga bisa membuat kita terlalu nyaman.
Kita terbiasa menggunakan sesuatu karena semuanya berjalan dengan baik. Kita jarang memikirkan apa yang akan terjadi jika suatu hari layanan itu tidak lagi tersedia sesuai kebutuhan, kebijakan berubah, atau akses terhadap fitur tertentu mengalami kendala.
Aku tidak mengatakan bahwa menggunakan layanan gratis adalah sebuah kesalahan. Justru sebaliknya, layanan seperti itu telah membuka banyak kesempatan bagi orang-orang yang ingin belajar dan berkarya.
Hanya saja, pengalaman ini membuatku berpikir ulang tentang ketergantunganku terhadap platform tertentu.
Bagaimana jika suatu hari aku harus berpindah lagi? Apakah seluruh proyekku sudah memiliki cadangan yang aman? Apakah aku memahami cara menjalankannya tanpa bergantung pada satu layanan? Apakah aku memiliki cukup pengetahuan untuk memindahkan semuanya ketika dibutuhkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak akan muncul seandainya semuanya tetap berjalan seperti biasa.
Dan mungkin, di situlah ada sesuatu yang bisa kupelajari dari kekecewaan ini.
Aku ingin lebih memahami Git, deployment, server, DNS, keamanan, dan berbagai hal yang sebelumnya mungkin kuanggap sebagai urusan teknis tambahan. Aku ingin membangun sistem yang tidak hanya bisa digunakan ketika semuanya berjalan lancar, tetapi juga bisa kuperbaiki ketika terjadi masalah.
Bukan berarti aku harus mengerjakan semuanya sendiri selamanya. Menggunakan layanan pihak ketiga tetap masuk akal, dan memanfaatkan teknologi yang sudah tersedia bukanlah tanda bahwa seseorang tidak mandiri.
Bagiku, mandiri berarti memiliki cukup pemahaman untuk membuat keputusan sendiri, mengetahui risiko yang dihadapi, dan tidak sepenuhnya kehilangan arah ketika salah satu pilihan tidak lagi bisa digunakan.
Migrasi Bukan Berarti Melupakan
Pada akhirnya, aku sedang memindahkan repository, menyiapkan ulang deployment, dan membiasakan diri dengan lingkungan baru. Ada banyak pekerjaan yang melelahkan, tetapi semuanya merupakan bagian dari proses yang harus kulalui.
Mungkin migrasi ini terdengar mengecewakan. Aku harus meninggalkan sebagian kenyamanan yang selama ini kunikmati, menghabiskan waktu untuk memindahkan proyek, dan mempelajari hal-hal baru yang sebenarnya belum menjadi prioritas.
Namun, aku tidak ingin melihatnya hanya sebagai kehilangan.
Ada pengalaman yang bisa kubawa, pengetahuan yang bisa kukembangkan, dan kesempatan untuk membangun fondasi yang lebih kuat bagi proyek-proyekku ke depan.
Terima kasih kepada GitHub yang selama ini telah menjadi tempatku menyimpan kode dan menerbitkan website personalku. Terima kasih atas kemudahan yang pernah diberikan, atas kesempatan untuk memulai tanpa banyak hambatan, dan atas perannya dalam perjalanan belajarku sejauh ini.
Kini, aku memilih melanjutkan perjalanan dengan cara yang berbeda.
Aku akan mencoba Codeberg untuk menyimpan repository, menggunakan home server untuk menjalankan website, dan perlahan-lahan belajar memahami lebih banyak hal di balik teknologi yang kugunakan.
Aku belum tahu apakah jalan baru ini akan lebih mudah. Mungkin justru akan lebih merepotkan. Namun, setidaknya kali ini aku punya kesempatan untuk belajar lebih jauh dan memahami apa yang selama ini hanya kugunakan.
Sebab, pada akhirnya, migrasi bukan selalu tentang menemukan tempat yang lebih baik. Terkadang, migrasi adalah tentang belajar melepaskan ketergantungan, menerima kenyataan, dan menemukan kemampuan baru dalam diri sendiri.
Dan mungkin, memang sudah waktunya bagiku untuk belajar lebih mandiri.